Indonesia Cetak Sejarah! Jadi Negara Pertama Dunia Terapkan ‘Seamless Corridor’ Biometrik, Imigrasi Tanpa Henti di Bandara Soetta
Revolusi Perjalanan Dimulai: Imigrasi Indonesia Tercepat di Dunia
Indonesia kembali mencatatkan namanya dalam peta inovasi global. Baru-baru ini, secara resmi Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mengimplementasikan sistem imigrasi 'seamless corridor' biometrik secara penuh di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Jakarta.
Sistem canggih ini menghilangkan kebutuhan untuk berhenti dan menunjukkan dokumen fisik, memungkinkan penumpang internasional melewati pemeriksaan imigrasi hanya dalam hitungan detik. Kehadiran teknologi ini bukan hanya janji, melainkan sebuah realitas yang secara fundamental mengubah pengalaman bepergian, menempatkan Imigrasi Indonesia di garis depan pelayanan kelas dunia.
Apa Itu ‘Seamless Corridor’ Biometrik?
Seamless Corridor Biometrik adalah sistem pemrosesan penumpang tanpa gesekan (frictionless) yang didukung oleh Kecerdasan Buatan (AI). Teknologi ini dikembangkan melalui kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi perjalanan global, Amadeus.
Konsep utamanya adalah verifikasi identitas bergerak (on-the-move facial verification). Artinya, Anda tidak perlu lagi berhenti di konter imigrasi atau memasukkan paspor Anda ke mesin autogate saat otentikasi akhir.
Cara Kerja Sistem Imigrasi Tanpa Henti
Penerapan seamless corridor bekerja dalam tiga langkah kunci, yang sebagian besar diselesaikan sebelum penumpang menginjakkan kaki di area imigrasi:
- Berbagi Data Awal: Penumpang membagikan detail paspor dan identitas digital mereka melalui aplikasi atau platform terpusat sebelum tiba di bandara (misalnya, melalui aplikasi "All Indonesia" dalam tahap awal).
- Pemeriksaan Latar Belakang: Proses verifikasi keamanan dan latar belakang diselesaikan oleh pihak Imigrasi saat penumpang masih berada di udara atau sebelum kedatangan.
- Otentikasi Akhir: Saat penumpang berjalan melewati koridor biometrik—sebuah gerbang futuristik—sistem AI akan memindai wajah mereka secara real-time dan membandingkannya dengan data yang telah dikirim. Jika cocok, gerbang terbuka tanpa perlu berhenti, tanpa antrean, dan tanpa dokumen. Rudy Daniello, seorang pejabat senior dari Amadeus, bahkan menyebut integrasi identitas digital dan biometrik ini sebagai “permata di mahkota” inovasi perjalanan modern, karena mampu menyediakan pengalaman yang benar-benar mulus dan aman.
Alasan Indonesia Menjadi Pelopor Global
Mengapa Indonesia, dan Bandara Soekarno-Hatta khususnya, yang menjadi yang pertama mengadopsi sistem seamless corridor secara masif?
1. Komitmen Program ‘All Indonesia’
Penerapan teknologi ini merupakan bagian dari inisiatif pemerintah yang lebih luas, yaitu program “All Indonesia”. Program ini bertujuan untuk menyederhanakan dan mempercepat proses imigrasi kedatangan internasional, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional bandara secara keseluruhan.
2. Pengalaman dari Uji Coba Haji dan Umrah
Teknologi seamless corridor bukanlah barang baru bagi Indonesia. Jauh sebelum diluncurkan untuk umum, sistem serupa telah diuji coba untuk memfasilitasi kedatangan dan keberangkatan jamaah haji dan umrah. Dalam fase uji coba tersebut, sistem ini terbukti mampu memproses lebih dari 30 lintasan perbatasan per menit, melayani puluhan ribu jamaah dengan sangat cepat dan efisien. Keberhasilan ini menjadi fondasi kuat untuk implementasi skala penuh.
Dampak Positif dan Proyeksi Masa Depan
Langkah ini membawa manfaat besar, tidak hanya bagi wisatawan tetapi juga bagi citra Indonesia di mata dunia:
- Efisiensi Waktu: Penumpang dapat menghemat waktu berharga, yang sangat penting terutama bagi para pelancong bisnis dan transit.
- Peningkatan Keamanan: Meskipun prosesnya cepat, penggunaan AI dan identitas digital memastikan bahwa pemeriksaan keamanan tetap ketat dan berlapis.
- Citra Global: Status sebagai negara pertama yang menerapkan teknologi ini menempatkan Indonesia sebagai pemimpin inovasi teknologi perjalanan, yang sangat mendukung sektor pariwisata.
Pada tahap awal, koridor tanpa hambatan ini diprioritaskan untuk lansia dan penumpang berkebutuhan khusus yang mendaftar melalui aplikasi. Rencananya, setelah sukses di Bandara Soekarno-Hatta, teknologi ini akan diperluas ke bandara internasional utama lainnya, seperti Bandara Juanda di Surabaya, memastikan bahwa revolusi perjalanan ini dapat dirasakan di seluruh Indonesia.
Komentar
Posting Komentar